Peni Hadiyani

Jumat, 02 November 2012

Desain Windows Vista Dengan CorelDraw X4

Logo Windows Vista

Cara Membuat Logo Windows Vista Dengan Corel Draw X4

1. Buka aplikasi Corel draw, setelah anda masuk Corel draw x4 lalu buat halaman baru (ctrl+N)
2. Setelah itu buat lingkaran agak besar dengan ellipse tool (F7), dan beri warna lingkaran tersebut dengan warna biru tua
3. Buat elips di atas lingkaran tadi dengan ellipse tool (F7), lalu beri warna biru muda dan letakan elips di bawah lingkaran

4. Setelah itu klik interactive blend tool untuk membuat efek sinar, setelah itu klik gambar elips yang berwarna biru tadi dan tarik ke atas


5. Atur number of steps or offset between blend shapes dari 20 menjadi 70


6. Setelah dirubah number of steps or offset between blend shapes

7. Setelah itu buat objek kotak dengan rectangle tool (F6)

8. Klik kanan pada objek kotak, tekan convert to curves (ctrl+Q)
9. Buat objek kotak tadi menjadi miring dengan bantuan shape tool (F10)
Photobucket
10. Lalu bengkokan bagian atas dan bawahnya ke atas masih dengan bantuan shape tool (F10), seperti gambar ini
Photobucket

11. Copy menjadi 4 bagian, seperti logo windows, dan beri warna seperti gambar di bawah ini

12. Selanjutnya
 akan memaikna efek gradasi dengan bantuan fountain fill dialog (F11)
13. Klik gambar yang berwarna merah, lalu klik fountain fill dialog, lalu atur setingannya menjadi Type: Radial, dan To:Yellow (rubah menjadi warna kuning), dan perhatikan gambar kotak dibawah ini, buat gradasi seperti itu (warna kuning berada di sebelah pojok kanan abawah)

14. Dan hasilnya akan seperti ini

logo Win7.jpg
15. Warnai yang lain seperti itu dengan langkah ke 13, bedanya jika warna ping gradasinya ke warna kuning, warna biru gradasinya ke warna putih, warna orange gradasinya ke warna light yellow (kuning muda)
16. Setelah beres group objek tersebut (ctrl+G)
17. Selanjutnya kita akan memberikan efek bayangan dengan bantuan interactive drop shadow tool
18. Tapi sebelumnya klik dulu objek yang akan kita beri efek bayangan dan seting letak bayangannya
19. Klik preset listnya dan pindahkan ke flat bottom right, setelah di klik gambar akan menjadi seperti ini

20. Ubah warna bayangannya menjadi biru tua pada drop shadow color, dan rubah setingan drop shadow opacity menjadi 45, dan drop shadow feathering menjadi 9
Photobucket
21. Setelah itu satukan lambang windows tadi ke lingaran yang telah tadi kita buat


Selasa, 14 Februari 2012

Produk Internasional :)


1.Texas
Produk : Makanan siap saji ( Ayam goreng,minuman ringan,es krim dll)
Berasal : Amerika Serikat

2.Indomie
Produk : Mie Instam 
Berasal : Indonesia
3.KFC
Produk : Makanan Siap Saji (Ayam Goreng,Minuman Ringan Dll)
Asal : Amerika Serikat
4.Pepsi
Produk : Minuman Ringan Bersoda
Asal : Amerika Serikat
5.McDonald
Produk : Makanan Siap Saji (Ayam Goreng,Minuman Ringan Dll)
Asal : San Bernardino California,Amerika Serikat
6.Pizza Hut
Produk :Makanan Siap Saji (pizza,Sphagetti dll)
Asal :Kansas,Amerika Serikat
7.Dunkin Donuts
Produk:Kue Donat Dan Minuman Ringan
Asal: Quincy Massahutsetts Amerika Serikat
8.Coca Cola(The Coca Cola Company)
Produk: Minuman Ringan Bersoda
Asal : Amerika Serikat
9.Garuda Food
Produk : Makanan Dan Minuman Ringan 
Asal : Indonesia
10.Ajinomoto
Produk:Bumbu Masak
Asal : Jepang
11.Eiger(PT.Eigerindo Multi Produk)
Produk : Peralatan Petualangan
Asal :Bandung,Cihampelas Indonesia
12.Apple Inc
Produk : Elektronik Komputerisasi (iPhone,iPad)
Asal : Jepang
13.Pocari Sweat
Produk :Minuman Ringan,Minuman Olahraga
Asal:Jepang
14.Honda
Produk :Otomotif (Mobil,Truk,Sepedah Motor,Skuter)
Asal : Jepang
15.Intel (Integrated Electronics Corporation)
Produk : Perlengkapan Komputerisasi (Chipset,Motherboard,Processor dll)
Asal : Santa Clara California Amerika Serikat
16.Toshiba
Produk : Elektronik
Asal : Jepang
17.Samsung
Produk : Elektronik
Asal : Daegu Korea


















Rabu, 08 Februari 2012

Budaya Bali

Senergi Agama-Agama dan Kebudayaan Bali

Kata sinergi (synergy) dalam The New Lexicon Webster International Dictionary of The English Language (1976:996) dinyatakan sebagai: cooperation, working together, combined action, the cooperative action of two or more parts or organs of the the body; the cooperative interaction of different drugs.  Berdasarkan uraian sebelumnya maka Agama Hindu sangat dominan pengaruh atau sinerginya dengan kebudayaan Bali dibandingkan dengan agama-aqgama lainnya. Untuk mengetahui bagaimana kebudayaan Bali (masa prasejarah) mendapat pengaruh dari Agama Hindu (yang mengantarkan memasuki masa sejarah) kiranya dapat dilihat melalui kerangka tentang unsur-unsur kebudayaan seperti yang diajukan oleh C. Kluckhohn dalam karangannya Universal Categories of Culture (1953) seperti yang disetujui oleh Koentjaraningrat (1980:217) yang terdiri dari: bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi, dan sistem kesenian. Pengaruh Agama Hindu terhadap 7 unsur kebudayaan Bali dapat dijelaskan sebagai berikut.
1)Bahasa. Seperti telah disebutkan di atas, bahwa Agama Hindu masuk ke Bali pada mulanya melalui media bahasa Sanskerta kemudian sejak pemerintahan Mahendradattagunapriyadharmapatni (permaisuri raja Dharmodayana Varmedeva), maka bahasa Jawa Kuno menggantikan media berbagai susastra Hindu dan hal ini tampak pengaruhnya terhadap bahasa Bali dewasa ini. Dalam mantra stuti masih menggunakan bahasa Sanskerta4.
2)Sistem pengetahuan. Melalui media bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno masyarakat Bali memiliki berbagai sistem pengetahuan yang bersumber dari Agama Hindu dan budaya India, antara lain sistem pengobatan (ausadha), pembangunan rumah (hastakosalakosali dan hastabhumi) dan lain-lain.
3)Organisasi sosial. Pada prasasti-prasasti Bali Kuno sebelumnya disebut adanya sistem pemerintahan serta adanya lembaga kerajaan yang disebut  panglapuan, paramaksa, samohanda, dan senapati di panglapuan. Sejak tahun 1001 Masehi, lembaga tersebut dinamakan pakira-kira i jero makabehan yang anggotanya terdiri dari para senapati (panglima perang) dan para pandita Siva dan Buddha (Ardana, 1982:31), demikian pula sistem pemerintahan di pedesaan seperti adanya karaman, thani, dan dalam perkembangan selanjutnya di Bali dikenal adanya tipe desa kuno dengan sistem pemerintahnan Mauluapad dan sistem pemerintahan yang dipimpin  oleh raja atau para Punggawa. 
4)Sistem peralatan hidup. Di samping sistem yang peralatan hidup yang merupakan produk asli Bali, sejak zaman prasejarah sudah pula memakai peralatan yang berasal dari luar, misalnya dapat dilihat dari tinggalan gerabah Arikamedu dari India Selatan yang rupanya sudah berlangsung sejak awal abad Masehi.
5)Sistem mata pencaharian. Pada masa prasejarah hingga dewasa ini rupanya pertanian yang kemudian berkembang dalam arti luas termasuk perkebunan walaupun merupakan hal yang sangat universal, pengaruh Agama Hindu tampak dari semua sistem pencaharian itu dikaitkan dengan Agama Hindu, artinya dalam memenuhi kebutuhan hidup senantiasa dikaitkan dengan pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini tampak hingga dewasa ini sistem pengairan yang sangat terkenal yakni Subak selalu dikaitkan dengan Agama Hindu, misalnya disetiap mata air dan di tempat pembagian air dibangun pura Ulunsui, Bedugul, dan sebagainya.
6)Sistem Religi. Ketika Agama Hindu masuk ke Bali, masyarakat Bali saat itu telah menganut kepercayaan kepada roh suci leluhur, adanya penguasa alam, dan gunung-gunung yang dianggap suci. Agama Hindu yang memiliki keyakinan (Sraddha) yang sama dengan kepercayaan setempat, yakni Pitrapuja (pemujaan kepada roh suci leluhur) mudah saja diterima oleh masyarakat Bali saat itu. Dan hal tersebut berlangsung hingga saat ini. Kedatangan Agama Hindu ke Bali tidak mengubah kepercayaan setempat tetapi memberikan pencerahan dengan lebih mengembangkan kepercayaan setempat. Pemujaan kepada penguasa tertinggi masyarakat Terunyan yakni Da Tonta berupa arca batu megalitik, dipermulia dengan menempatkan kata Bhattara pada nama sebelumnya dan kemudian disemayamkan pada bangunan Meru. Hal ini dapat diketahui antara lain dari prasasti Terunyan yang berasal dari 818 Saka (896 M), isinya tentang pemberian ijin kepada nanyakan pradhana dan bhiksu agar membangun  sebuah kuil untuk Hyang Api di desa Banua Bharu. Prasasti lainnya berasal dari tahun 813 Saka (891 M) isinya tentang pemberian ijin kepada penduduk desa Turuñan untuk membangun kuil bagi Bhatara Da Tonta. Oleh karena itu mereka dibebaskan dari beberapa jenis pajak, tetapi mereka ini dikenakan sumbangan untuk kuil tadi. Beberapa jenis pajak harus dibayar setiap bulan Caitra dan Magha, pada hari kesembilan (mahanavami). Bila ada utusan raja datang menyembah (sembahyang) pada bulan Asuji, mereka harus diberi makanan dan sebagainya (Sartono, 1976:136). Dalam prasasti itu juga menyebutkan haywahaywan di magha mahanavami (Goris, 1954:56). Dalam bahasa Bali dewasa ini kata mahaywahaywa (dari kata mahayu-hayu) berarti merayakan. Haywahaywan di magha mahanavami berarti perayaan Magha Mahanavami. Di India Mahanavami identik dengan Dasara yakni hari pemujaan ditujukan kepada para leluhur (Dubois, 1981:569). Swami Sivananda (1991:8) mengidentikkan  Dasara dengan Durgapuja yang dirayakan dua kali setahun, yakni Ramanavaratri atau Ramanavami pada bulan Caitra, dan Durganavaratri atau Durganavami pada bulan Asuji (September-Oktober). Perayaan ini disebut juga Wijaya Dasami atau Sraddha Wijaya Dasami (hari pemujaan kepada leluhur dan perayaan kemenangan selama sepuluh hari). Hari raya ini di Bali (dirayakan dua kali dalam setahun) dikenal dengan nama Galungan yang hakekatnya adalah Durgapuja atau Sraddha Vijaya Dasami (hari pemujaan kepada leluhur dan perayaan kemenangan selama sepuluh hari) yang dirayakan secara besar-besaran sejak Gunapriyadharmapatni di-dharma-kan sebagai Durgamahisasuramardhini di pura Kedharma Kutri, Blahbatuh, Gianyar5.Beberapa hari raya Hindu di India dipribhumikan ke dalam bahasa lokal antara lain Ayudhapuja di Bali disebut Tumpek Landep, Pasupatipuja disebut Tumpek Uye, dan Sankarapuja disebut Tumpek Pengarah. Yatra disebut Melis, Makiyis, atau Melasti dan beberapa persembahan seperti puja disebut daksina, jajan dari beras berlobang di India selatan disebut Kalimaniarem, di Bali disebut Kaliadrem6 dan sebagainya. Karena adanya persamaan dalam keyakinan dengan religi prasejarah, maka masyarakat Bali saat itu tidak kesulitan dalam memeluk Agama Hindu yang ajarannya telah terdokumentasi dalam bentuk tulisan atau dibawa oleh para pandita.
7)Sistem Kesenian. Sistem ini (kesenian Bali) walaupun tidak bisa dirunut asalnya secara pasti namun adanya pertunjukkan wayang kulit yang oleh Brandes disebut sebagai kesenian asli Indonesia, di India selatan kita jumpai seni yang disebut Kathakali yang mirip dengan wayang kulit yang dipentaskan baik malam maupun siang hari (seperti wayang lemah), demikian pula pementasan cerita Ramayana, dan Bhimakumara seperti disebutkan dalam prasasti Jaha di Jawa Tengah bersumber kepada Ramayana dan Mahabharata yang di India disebut Ramalila dan Mahabharatalila atau Krishnalila. Beberapa tari lepas di Bali tampak seperti Bharatnatyam di India. Dalam seni arsitektur, struktur bangunan yang disebut Meru dapat dijumpai di Nepal dan di India utara7.
Berdasarkan uraian tersebut maka masuknya Agama Hindu di Bali tidak merusak atau  melenyapkan kepercayaan atau kebudayaan, dan bahkan dalam hal tertentu sangat menghargai kepercayaan dan tradisi budaya masyarakat Bali. Demikian  antara lain pengaruh atau sinergi Agama Hindu terhadap berbagai aspek atau unsur-unsur kebudayaan Bali yang demikian rupa seperti sulit dibedakan antara Agama Hindu dan kebudayaan Bali  yang dapat digambarkan sebagai diagram berikut.  
Diagram di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: Agama Hindu sebagai titik sentral (pusat). Agama Hindu melalui sistem atau media bahasa, yakni (1) Bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno diterima dan dianut oleh masyarakat Bali. Demikian pula melalui media bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno masyarakat Bali yang telah menganut Agama Hindu memperoleh (2) sistem pengetahuan. Selanjutnya diterapkan (3) sistem sosial dengan sebagian masih mempertahankan sistem prasejarah dan sebagian lagi mengambil alih atau bersumber pada nilai-nilai Agama Hindu8. (4) Sistem peralatan hidup dan teknologi merupakan kelanjutan dari masa prasejarah dan berkembang pula pada zaman sejarah dengan mengadopsi nilai Agama Hindu, misalnya didirikan tempat pemujaan, arca-arca dan sebagainya. (5) Sistem mata pencaharian masyarakat Bali yang pada mulanya bertani dan berburu, setelah adanya hubungan dengan China dan India mendapat pengaruh dari kedua kebudayaan tersebut, terutama dalam perdagngan. Dalam perkembangannya di setiap tempat untuk memperoleh mata pencaharian didirikan tempat pemujaan yang kemudian dikenal sistem Subak dengan Pura Ulunsui, Pura Bedugul, dan di pasar dibangun Pura Melanting sebagai tempat memuja Dewi Sri Laksmi.(6) Sistem religi pada masa prasejarah dengan masuk dan diterimanya Agama Hindu, kepercayaan lama dicerahkan dan didominasi oleh ajaran Agama Hindu. Demikian pula (7) sistem kesenian, akar-akar kesenian yang sudah terdapat pada masa prasejarah dikembangkan dengan tema-tema yang terdapat di dalam Agama Hindu dengan tetap menghargai dan mensinergikan budaya sebelumnya. Ketujuh unsur kebudayaan di atas (lingkaran-lingkaran kecil) berada dalam lingkaran besar kebudayaan Bali dan mendapat pencerahan dan diabdikan kembali kepada keagungan Agama Hindu (lingkaran di tengah-tengah), dengan demikian terjadi jalinan yang sangat halus sehingga sulit membedakan antara Agama Hindu dan kebudayaan Bali.
Persamaan antara religi prasejarah Bali dengan Agama Hindu dapat dilihat beberapa di antaranya melalui perbandingan berikut .

                        Religi Prasejarah
Agama Hindu
1.

2.

3.

4.
 5. 


6.

7. 

8. 


9. 

10. 


<!--[if !supportLineBreakNewLine]-->
<!--[endif]-->
Sebutan untuk Tuhan adalah Sang Embang/Sang Hyang Tuduh.
 
Dewa yang bersemayam di puncak Gunung Agung disebut To Langkir

Tempat yang dipandang suci adalah gunung, sungai, laut.
Percaya terhadap kekuatan alam yang disebut Hyang.
Percaya terhadap roh suci leluhur dengan perwatan jenasah dan roh suci dianggap bersemayam di puncak-puncak gunung.
Membuat tiruan gunung berupa punden berundak-undak, menhir dan tahta batu.
Tinggalan situs Gilimanuk ditemukan gigi manusia telah dipanggur.

Tinggalan sikap jenasah pada sarkopagus dalam posisi bayi dalam kandungan menunjukkan adanya kepercayaan akan kelahiran kembali.
Adanya orientasi arah yang dipandang suci yakni utara dan timur.
 
Adanya persembahan dan bekal kubur.

.

2.

3.
 4.

5.

6.


7.


8. 

9. 

10. 




Sebutan untuk Tuhan adalah Sang Hyang Widhi Wasa.
Dewa yang bersemayam di puncak Gunung Agung disebutBhattara Giripati atau Mahadewa.
Tempat yang dipandang suci adalah gunung, sungai, laut.
Kekuatan alam disebut dengan nama Dewa.
Percaya terhadap roh suci leluhur yang disebut Atma dan Atma yang suci bersemayam di puncak-puncak gunung.
Membuat tiruan kahyangan dan gunung berupa pura, prasada, candi, meru.

Tradisi panggur tersebut berlanjut disebut upacara “mapandes” atau “matatah”, ditemukan dalam tradisi Veda kuno.
Kepercayaan terhadap kelahiran kembali disebut Punarbhava atau Samsara.
Adanya orientasi arah yang dipandang suci yakni utara dan timur yang disebut Uttara dan Purva.
Adanya persembahan dan bekal kubur berupa upakara yajna.

Seperti telah disebutkan di atas, dilihat dari proses dan sejarah perkembangan agama-agama di Bali, Agama Hindu hampir bersamaan datangnya dengan Agama Buddha, demikian pula dengan Agama Kong Hu Chu atau Tao yang rupanya datang bersamaan dengan adanya hubungan dengan China. Agama Islam datang ke Bali dan tidak mendapat respon atau dipeluk oleh masyarakat Bali. Agama ini sudah ada di Bali abad XIV. Sejak saat itu orang-orang Islam berdatangan ke Bali, terkait dengan kepentingan politik masing-masing kerajaan di Bali. (Wijaya, 2005:36). Penganut Agama Islam adalah para pendatang seperti suku Jawa, Bugis, Sasak, dan Madura.  Dalam perkembangan berikutnya pemeluk Agama Islam datang ke Bali berkaitan dengan perdagangan dan mencari nafkah di Bali. Di beberapa daerah utamanya penganut Agama Islam yang terkait dengan kerajaan-kerajaan di Bali umumnya menyatu dalam arti kegiatan suka dan duka dengan komunitas Hindu di Bali dengan tetap mempertahankan identitas agama termasuk budaya asal etnis yang bersangkutan.

Budaya Batak


SEJARAH
Kerajaan Batak didirikan oleh seorang Raja dalam negeri Toba sila-silahi (silalahi) lua’ Baligi (Luat Balige), kampung Parsoluhan, suku Pohan. Raja yang bersangkutan adalah Raja Kesaktian yang bernama Alang Pardoksi (Pardosi). Masa kejayaan kerajaan Batak dipimpin oleh raja yang bernama. Sultan Maharaja Bongsu pada tahun 1054 Hijriyah berhasil memakmurkan negerinya dengan berbagai kebijakan politiknya.

DESKRIPSI LOKASI
Suku bangsa Batak dari Pulau Sumatra Utara. Daerah asal kediaman orang Batak dikenal dengan Daratan Tinggi Karo, Kangkat Hulu, Deli Hulu, Serdang Hulu, Simalungun, Toba, Mandailing dan Tapanuli Tengah. Daerah ini dilalui oleh rangkaian Bukit Barisan di daerah Sumatra Utara dan terdapat sebuah danau besar dengan nama Danau Toba yang menjadi orang Batak. Dilihat dari wilayah administrative, mereka mendiami wilayah beberapa Kabupaten atau bagaian dari wilayah Sumatra Utara. Yaitu Kabupaten Karo, Simalungun, Dairi, Tapanuli Utara, dan Asahan.

UNSUR BUDAYA

A. Bahasa
Dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari, orang Batak menggunakan beberapa logat, ialah: (1)Logat Karo yang dipakai oleh orang Karo; (2) Logat Pakpak yang dipakai oleh Pakpak; (3) Logat Simalungun yang dipakai oleh Simalungun; (4) Logat Toba yang dipakai oleh orang Toba, Angkola dan Mandailing.

B. Pengetahuan
Orang Batak juga mengenal sistem gotong-royong kuno dalam hal bercocok tanam. Dalam bahasa Karo aktivitas itu disebut Raron, sedangkan dalam bahasa Toba hal itu disebut Marsiurupan. Sekelompok orang tetangga atau kerabat dekat bersama-sama mengerjakan tanah dan masing-masing anggota secara bergiliran. Raron itu merupakan satu pranata yang keanggotaannya sangat sukarela dan lamanya berdiri tergantung kepada persetujuan pesertanya.

C. Teknologi
Masyarakat Batak telah mengenal dan mempergunakan alat-alat sederhana yang dipergunakan untuk bercocok tanam dalam kehidupannya. Seperti cangkul, bajak (tenggala dalam bahasa Karo), tongkat tunggal (engkol dalam bahasa Karo), sabit (sabi-sabi) atau ani-ani. Masyarakat Batak juga memiliki senjata tradisional yaitu, piso surit (sejenis belati), piso gajah dompak (sebilah keris yang panjang), hujur (sejenis tombak), podang (sejenis pedang panjang). Unsur teknologi lainnya yaitukain ulos yang merupakan kain tenunan yang mempunyai banyak fungsi dalam kehidupan adat Batak.

D. Organisasi Sosial
a. Perkawinan
Pada tradisi suku Batak seseorang hanya bisa menikah dengan orang Batak yang berbeda klan sehingga jika ada yang menikah dia harus mencari pasangan hidup dari marga lain selain marganya. Apabila yang menikah adalah seseorang yang bukan dari suku Batak maka dia harus diadopsi oleh salah satu marga Batak (berbeda klan). Acara tersebut dilanjutkan dengan prosesi perkawinan yang dilakukan di gereja karena mayoritas penduduk Batak beragama Kristen.
Untuk mahar perkawinan-saudara mempelai wanita yang sudah menikah.

b. Kekerabatan
Kelompok kekerabatan suku bangsa Batak berdiam di daerah pedesaan yang disebut Huta atau Kuta menurut istilah Karo. Biasanya satu Huta didiami oleh keluarga dari satu marga.Ada pula kelompok kerabat yang disebut marga taneh yaitu kelompok pariteral keturunan pendiri dari
Kuta. Marga tersebut terikat oleh simbol-simbol tertentu misalnya nama marga. Klen kecil tadi merupakan kerabat patrilineal yang masih berdiam dalam satu kawasan. Sebaliknya klen besar yang anggotanya sdah banyak hidup tersebar sehingga tidak saling kenal tetapi mereka dapat mengenali anggotanya melalui nama marga yang selalu disertakan dibelakang nama kecilnya, Stratifikasi sosial orang Batak didasarkan pada empat prinsip yaitu : (a) perbedaan tigkat umur, (b) perbedaan pangkat dan jabatan, (c) perbedaan sifat keaslian dan (d) status kawin.

E. Mata Pencaharian
Pada umumnya masyarakat batak bercocok tanam padi di sawah dan ladang. Lahan didapat dari pembagian yang didasarkan marga. Setiap kelurga mandapat tanah tadi tetapi tidak boleh menjualnya. Selain tanah ulayat adapun tanah yang dimiliki perseorangan .
Perternakan juga salah satu mata pencaharian suku batak antara lain perternakan kerbau, sapi, babi, kambing, ayam, dan bebek. Penangkapan ikan dilakukan sebagian penduduk disekitar danau Toba.
Sektor kerajinan juga berkembang. Misalnya tenun, anyaman rotan, ukiran kayu, temmbikar, yang ada kaitanya dengan pariwisata.

F. Religi
Pada abad 19 agama islam masuk daerah penyebaranya meliputi batak selatan . Agama kristen masuk sekitar tahun 1863 dan penyebaranya meliputi batak utara. Walaupun d emikian banyak sekali masyarakat batak didaerah pedesaan yang masih mmpertahankan konsep asli religi pendduk batak. Orang batak mempunyai konsepsi bahwa alam semesta beserta isinya diciptakan oleh Debeta Mula Jadi Na Balon dan bertempat tinggal diatas langit dan mempunyai nama-nama sesuai dengan tugasnya dan kedudukanya . Debeta Mula Jadi Na Balon : bertempat tinggal dilangit dan merupakan maha pencipta; Siloan Na Balom: berkedudukan sebagai penguasa dunia mahluk halus. Dalam hubungannya dengan roh dan jiwa orang batak mengenal tiga konsep yaitu : Tondi: jiwa atau roh; Sahala : jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang; Begu : Tondinya orang yang sudah mati. Orang batak juga percaya akan kekuatan sakti dari jimat yang disebut Tongkal.

G. Kesenian
Seni Tari yaitu Tari Tor-tor (bersifat magis); Tari serampang dua belas (bersifat hiburan). Alat Musik tradisional : Gong; Saga-saga. Hasil kerajinan tenun dari suku batak adalah kain ulos. Kain ini selalu ditampilkan dalam upacara perkawinan, mendirikan rumah, upacara kematian, penyerahan harta warisan, menyambut tamu yang dihormati dan upacara menari Tor-tor. Kain adat sesuai dengan sistem keyakinan yang diwariskan nenek moyang .

NILAI BUDAYA

1. Kekerabatan
Nilai kekerabatan masyarakat Batak utamanya terwujud dalam pelaksanaan adat Dalian Na Talu, dimana seseorang harus mencari jodoh diluar kelompoknya, orang-orang dalam satu kelompok saling menyebut Sabutuha (bersaudara), untuk kelompok yang menerima gadis untuk diperistri disebut Hula-hula. Kelompok yang memberikan gadis disebut Boru.
2. Hagabeon
Nilai budaya yang bermakna harapan panjang umur, beranak, bercucu banyak, dan yang baik-baik.
3. Hamoraan
Nilai kehormatan suku Batak yang terletak pada keseimbangan aspek spiritual dan meterial.
4. Uhum dan ugari
Nilai uhum orang Batak tercermin pada kesungguhan dalam menegakkan keadilan sedangkan ugari terlihat dalam kesetiaan akan sebuah janji.
5. Pengayoman
Pengayoman wajib diberikan terhadap lingkungan masyarakat, tugas tersebut di emban oleh tiga unsur Dalihan Na Tolu.
6. Marsisarian
Suatu nilai yang berarti saling mengerti, menghargai, dan saling membantu.

ASPEK PEMBANGUNAN
Aspek pembangunan dari suku Batak yaitu masuknya sistem sekolah dan timbulnya kesempatan untuk memperoleh prestise social. Terjadinya jaringan hubungan kekerabatan yang berdasarkan adat dapat berjalan dengan baik. Adat itu sendiri bagi orang Batak adalah suci. Melupakan adat dianggap sangat berbahaya.

Pengakuan hubungan darah dan perkawinan memperkuat tali hubungan dalam kehidupan sehari-hari. Saling tolong menolong antara kerabat dalam dunia dagang dan dalam lapangan ditengah kehidupan kota modern umum terlihat dikalangan orang Batak. Keketatan jaringan kekerabatan yang mengelilingi mereka itulah yang memberi mereka keuletan yang luar biasa dalam menjawab berbagai tantangan dalam abad ini. 

Budaya Banten

Kebudayaan Banten
Banyak para ahli mendefinisikan kebudayaan yang secara redaksional dan mungkin substansial berbeda satu sama lain. Kaitan dengan upaya agar mudah melihat kebudayaan Banten, konsep kebudayaan yang kiranya sederhana ialah yang dikemukakan oleh Dr. Koentjaaningrat. Ia menyatakan bahwa kebudayaan ialah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Definisi ini menunjukkan dengan jelas bahwa kebudayaan itu meliputi dimensi gagasan (sebagai aspek ideal yang tidak terlihat), dimensi perbuatan (tindakan) (sebagai aspek faktual yang dapat dilihat), dan dimensi hasil karya (sebagai aspek fisik yang dapat dilihat dan diamati berulang kali).
Dari ketiga dimensi tersebut yang bisa dikenali secara langsung adalah kebudayaan pada dimensi fisik dan perbuatan (kelakuan). Kemudian diperlukan juga kejelasan pada unsur apa dua dimensi tersebut diamati. Yang paling mungkin ialah pada unsur-unsur kebudayaan yang menurut Koentjaraningrat ada tujuh unsur, yaitu:

1. Bahasa
2. Sistem Pengetahuan
3. Organisasi Sosial
4. Sistem Religi
5. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi
6. Sistem Mata Pencaharian Hidup
7. Kesenian
Banten sebagai komunitas kultural sebagaimana dinyatakan di atas, tentu dengan kebudayaannya itu dapat diamati (dipotret) melalui unsur-unsur kebudayaannya, khususnya melalui dan pada dimensi fisik atau kelakuan (perbuatan). Unsur-unsur kebudayaan tersebut memang ada pada kebudayaan Banten yang berarti bahwa Banten sebagai komunitas kultural adalah benar. Pengamatan untuk ini dilakukan dengan melihat sisi-sisi tradisi dan sisa-sisa peninggalan fisik (artefak) di Banten yang secara simbolik dapat diinterpretasi. Apalagi sisa-sisa tradisi dan sisa-sisa peninggalan fisik itu menurut Ambari, sarat dengan ciri dan pengaruh Islam.

Budaya Banten dan Perubahan-perubahannya
Melalui unsur-unsur kebudayaan, kiranya dapat digambarkan keberadaan Banten dari masa pertama dan perkembangannya kini. Secara deskriptif dapat dikemukakan sbb: 
Bahasa. Sebelum kedatangan Syarif Hidayatullah di Banten bahasa penduduk yang pusat kekuasaan politiknya di Banten Girang, adalah bahasa Sunda. Sedangkan bahasa Jawa, dibawa oleh Syarif Hidayatullah, kemudian oleh puteranya, Hasanuddin, berbarengan dengan penyebaran agama Islam. Dalam kontak budaya yang terjadi, bahasa Sunda dan bahasa Jawa itu saling mempengaruhi yang pada gilirannya membentuk bahasa Jawa dengan dialek tersendiri dan bahasa Sunda juga dengan dialeknya sendiri. Artinya, bahasa Jawa lepas dari induknya (Demak, Solo, dan Yogya) dan bahasa Sunda juga terputus dengan pengembangannya di Priangan sehingga membentuk bahasa sunda dengan dialeknya sendiri pula; kita lihat misalnya di daerah-daerah Tangerang, Carenang, Cikande, dan lain-lain, selain di Banten bagian Selatan.
Bahasa Jawa yang pada permulaan abad ke-17 mulai tumbuh dan berkembang di Banten, bahkan menjadi bahasa resmi keraton termasuk pada pusat-pusat pemerintahan di daerah-daerah. Sesungguhnya pengaruh keraton itulah yang telah menyebabkan bahasa Jawa dapat berkembang dengan pesat di daerah Banten Utara. Dengan demikian lambat laun pengaruh keraton telah membentuk masyarakat berbahasa Jawa. Pada akhirnya, bahasa Jawa Banten tetap berkembang meskipun keraton tiada lagi.
Bahasa Jawa dimaksud dalam pengungakapannya menggunakan tulisan Arab (Pegon)  seperti kita temukan pada manuskript, babad, dan dokumen-dokumen tertentu. Penggunaan huruf Arab (Pegon) didorong oleh dan disebabkan karena:
Penggunaan aksara lama terdesak oleh huruf Arab setelah Islamisasi.
Huruf Arab menjadi sarana komunikasi kaum maju, sedangkan aksara menjadi alat komunikasi kaum elit/lama/feodal, ditambah pihak kolonial yang mengutamakan aksara Ijawa). Kaum maju tersebut adalah masyarakat pemberontak, atau setidak-tidaknya tidak setuju dengan adanya penguasaan asing sehingga huruf Arab dipergunakan sebagai sarana lebih aman dan juga rahasia.
Di lain pihak, terutama kaum lama, penggunan huruf Pegon memberikan corak Islam dalam tulisan yang tidak selalu bersifat Islam, sehingga lebih aman beredar/mengisi permintaan rakyat.

Untuk mempermudah kajian dan penelitian isi, terutama masalah-masalah hukum, huruf Arab lalu disalin ke dalam tulisan (huruf) latin sebelum kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa lain, terutama Belanda. Bahasa Jawa dengan tulisan latin itu merupakan perkembangan kemudian karena pada aslinya menggunakan tulisan Arab. Demikian pula perkembangan perbendaharaan kata dipengaruhi oleh lingkungan bahasa Sunda, bahasa Arab, dan bahasa lain. Pada jaman penjajahan Belanda, ada juga pengaruh bahasa Belanda yang masuk ke dalam bahasa Jawa, misalnya sekola, yang semula ginau. Pada perkembangan sekarang, bahasa Jawa Banten ternyata juga dipengaruhi oleh bahasa Indonesia; mungkin demikian seterusnya, tetapi bahasa ini akan tetap ada sesuai dengan keberadaan pendukungnya.

Sistem Pengetahuan
Pengetahuan manusia merupakan akumulasi dari tangkapannya terhadap nilai-nilai yang diacu dan dipahami, misalnya agama, kebiasaan, dan aturan-aturan. Pengetahuan manusia tidak berdiri sendiri melainkan berhubungan dengan elemen-elemen lain, dan karena itu maka disebut sistem pengetahuan. Salah satu (sistem) pengetahuan sebagai salah satu unsur kebudayaan Banten adalah misalnya pengetahuan tentang kosmologi (alam semesta). Pada fase perkembangan awal pengetahuan tentang kosmologi orang Banten adalah bahwa alam ini milik Gusti Pangeran yang dititipkan kepada Sultan yang berpangkat Wali setelah Nabi. Karena itu hierarchi Sultan adalah suci.
Gusti Pangeran itu mempunyai kekuatan yang luar biasa yang sebagian kecil dari kekuatannya itu diberikan kepada manusia melalui pendekatan diri. Yang mengetahui formula-formula pendekatan diri untuk memperoleh kekuatan itu adalah para Sultan dan para Wali, karena itu Sultan dan para Wali itu sakti. Kesaktian Sultan dan para wali itu dapat disebarkan kepada keturunan dan kepada siapa saja yang berguru (mengabdi).
Pengetahuan yang berakar pada kosmologi tersebut masih ada sampai kini sehingga teridentifikasi dalam pengetahuan magis. Mungkin dalam perkembangan kelak tidak bisa diprediksi menjadi hilang, bahkan mungkin menjadi alternartif bersama-sama dengan (sistem) pengetahuan yang lain.
Organisasi Sosial
Yang dimaksud dengan organisasi sosial adalah suatu sistem dimana manusia sebagai mahluk sosial berinteraksi. Adanya organisasi sosial itu karena ada ketundukan terhadap pranata sosial yang diartikan oleh Suparlan sebagai seperangkat aturan-aturan yang berkenaan dengan kedudukan dan penggolongan dalam suatu struktur yang mencakup suatu satuan kehidupan sosial, dan mengatur peranan serta berbagai hubungan kedudukan, dan peranan dalam tindakan-tindakan dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan.
Di antara bentuk organisasi sosial di Banten adalah stratifikasi sosial. Pada awal di jaman Kesultanan, lapisan atas dalam stratifikasi sosial adalah pada Sultan dan keluarganya/keturunannya sebagai lapisan bangsawan. Kemudian para pejabat kesultanan, dan akhirnya rakyat biasa. Pada perkembangan selanjutnya, hilangnya kesultanan, yang sebagian peranannya beralih pada Kiyai (kaum spiritual), dalam stratifikasi sosial merekalah yang ada pada lapisan atas. Jika peranan itu berpindah kepada kelompok lain, maka berpindah pulalah palisan itu.

Sistem Religi
Yang dimaksud dengan sistem religi adalah hubungan antar elemen-elemen dalam upacara agama. Agama Islam sebagai agama resmi keraton dan keseluruhan wilayah kesultanan, dalam upacara-upacaranya mempunyai sistem sendiri, yang meliputi peralatan upacara, pelaku upacara, dan jalannya upacara. Misalnya dalam upacara Salat, ada peralatan-peralannya dari sejak mesjid, bedug, tongtong, menara, mimbar, mihrab, padasan (pekulen), dan lain-lain. Demikian pula ada pelakunya, dari sejak Imam, makmum, tukang Adzan, berbusana, dan lain-lain; sampai kemudian tata cara upacaranya.
Di jaman kesultanan, Imam sebagai pemimpin upacara Salat itu adalah Sultan sendiri yang pada transformasinya kemudian diserahkan kepada Kadi. Pada perubahan dengan tidak ada sultan, maka upacara agama berpindahkepemimpinannya kepada kiyai. Perkembangan selanjutnya bisa jadi berubah karena transformasi peranan yang terjadi.

Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi
Kehidupan masyarakat memang memerlukan peralatan dan teknologi. Memperhatikan paralatan hidup dan teknologi dalam kebudayaan Banten, dapat diperoleh informasinya dari peninggalan masa lalu. Salah satu diantaranya misalnya relief, penemuan benda-benda arkeologis, dan catatan-catatan masa lalu. Di jaman kesultanan, kehidupan masyarakat ditandai dengan bertani, berdagang, dan berlayar termasuk nelayan. Dari corak kehidupan ini terlihat bahwa peralatan hidup bagi petani masih terbatas pada alat-alat gali dan lain-lain termasuk pemanfaatan hewan sebagai sumber energi.
Angkutan dan teknologi pelayaran masih memanfaatkan energi angin yang karenanya berkembang pengetahuan ramalan cuaca secara tradisional, misalnya dengan memanfaatkan tanda-tanda alam. Demikian pula teknik pengolahan logam, pembuatan bejana, dan lain-lain, memanfaatkan energi alam dan manusia. Tentu saja aspek (unsur kebudayaan) ini secara struktural mengalami perubahan pada kini dan nanti, meski secara fungsional mungkin tetap.

Sistem Mata Pencaharian Hidup
Gambaran perkembangan mengenai hal ini untuk sejarah manusia, akan tersentuh dengan kehidupan primitif, dari hidup berburu sampai bercocok tanam. Hubungannya dengan kebudayaan Banten, sistem mata pencaharian hidup sebagai salah satu unsur kebudayaan, terlihat dari jaman kesultanan. Mata pencaharian hidup dari hasil bumi menampilkan adanya pertanian. Dalam sistem pertanian itu ada tradisi yang masih nampak, misalnya hubungan antara pemilik tanaman (petani) dan orang-orang yang berhak ikut mengetam dengan pembagian tertentu menurut tradisi.
Dalam nelayan misalnya ada sistem simbiosis antara juragan dan pengikut-pengikutnya dalam usaha payang misalnya. Kedua belah pihak dalam mata pencaharian hidup itu terjalin secara tradisional dalam sistem mata pencaharian. Mungkin pula hubungan itu menjadi hubungan kekerabatan atau hubungan Patron-Clien.
Pada masa kini kemungkinan sistem tersebut sudah berubah, disamping karena perubahan mata pencaharian hidup, juga berubah dalam sistemnya karena penemuan peralatan (teknologi) baru. Demikian pula kemungkinan di masa yang akan datang.
Kesenian
Kesenian adalah keahlian dan keterampilan manusia untuk menciptakan dan melahirkan hal-hal yang bernilai indah. Ukuran keindahannya tergantung pada kebudayaan setempat, karena kesenian sebagai salah satu unsur kebudayaan. Dari segi macam-macamnya, kesenian itu terdapat banyak macamnya, dari yang bersumber pada keindahan suara dan pandangan sampai pada perasaan, bahkan mungkin menyentuh spiritual.
Ada tanda-tanda kesenian Banten itu merupakan kesenian peninggalan sebelum Islam dan dipadu atau diwarnai dengan agama Islam. Misalnya arsitektur mesjid dengan tiga tingkat sebagai simbolisasi Iman, Islam, Ihsan, atau Syari’at, tharekat, hakekat. Arsitektur seperti ini berlaku di seluruh masjid di Banten. Kemudian ada kecenderungan berubah menjadi bentuk kubah, dan mungkin pada bentuk apa lagi, tapi yang nampak ada kecenderungan lepas dari simbolisasi agama melainkan pada seni itu sendiri.
Arsitektur rumah adat yang mengandung filosofi kehidupan keluarga, aturan tabu, dan nilai-nilai prifasi, yang dituangkan dalam bentuk ruangan paralel dengan atap panggung Ikan Pe, dan tiang-tiang penyanggah tertentu. Filosofi itu telah berubah menjadi keindahan fisik sehingga arsitekturnya hanya bermakna aestetik.
Mengenai kesenian lain, ada pula yang teridentifikasi kesenian lama (dulu) yang belum berubah, kecuali mungkin kemasannya. Kesenian-kesenian dimaksud ialah:
1. Seni Debus Surosowan
2. Seni Debus Pusaka Banten
3. Seni Rudat
4. Seni Terbang Gede
5. Seni Patingtung
6. Seni Wayang Golek
7. Seni Saman
8. Seni Sulap-Kebatinan
9. Seni Angklung Buhum
10. Seni Beluk
11. Seni Wawacan Syekh
12. Seni Mawalan
13. Seni Kasidahan
14. Seni Gambus
15. Seni Reog
16. Seni Calung
17. Seni Marhaban
18. Seni Dzikir Mulud
19. Seni Terbang Genjring
20. Seni Bendrong Lesung
21. Seni Gacle
22. Seni Buka Pintu
23. Seni Wayang Kulit
24. Seni Tari Wewe
25. Seni Adu Bedug
26. Dan lain-lain
Kesenian-kesenian tersebut masih tetap ada, mungkin belum berubah kecuali kemasan-kemasannya, misalnya pada kesenian kasidah dan gambus. Relevansi kesenian tradisional ini mungkin, jika berkenaan dengan obyek kajian penelitian maka yang diperlukan adalah orsinilitasnya. Tetapi jika untuk kepentingan pariwisata maka perlu kemasan yang menarik tanpa menghilangkan substansinya.
Walaupun mungkin, secara umum kesenian-kesenian tersebut akan tunduk pada hukum perubahan sehubungan dengan pengaruh kebudayaan lain. Mungkin karena tidak diminati yang artinya tidak ada pendukung pada kesenian itu, bisa jadi lama atau tidak, akan punah. Karena itu, mengenai kesenian yang tidak boleh lepas dari nilai-nilai Kebudayaan Banten, bisa jadi atau malah harus ada perubahan kemasan.

Penutup
Banten sebagai komunitas kutural memang mempunyai kebudayaannya sendiri yang ditampilkan lewat unsur-unsur kebudayaan. Dilihat dari unsur-unsur kebudayaan itu, masing-masing unsur berbeda pada tingkat perkembangan dan perubahannya. Karena itu terhadap unsur-unsur yang niscaya harus berkembang dan bertahan, harus didorong pula bagi pendukungnya untuk terus menerus belajar (kulturisasi) dalam pemahaman dan penularan kebudayaan.
Kalau boleh dikatakan, menangkap potret budaya Banten adalah upaya yang harus serius, kalau tidak ingin menjadi punah. Kepunahan suatu kebudayaan sama artinya dengan lenyapnya identitas. Hidup tanpa identitas berarti berpindah pada identitas lain dengan menyengsarakan identitas semula.