Peni Hadiyani

Rabu, 08 Februari 2012

Budaya Sunda

Kebudayaan Sunda termasuk salah satu kebudayaan suku bangsa di Indonesia yang berusia tua. Bahkan, dibandingkan dengan kebudayaan Jawa sekalipun, kebudayaan Sunda sebenarnya termasuk kebudayaan yang berusia relatif lebih tua, setidaknya dalam hal pengenalan terhadap budaya tulis. "Kegemilangan" kebudayaan Sunda di masa lalu, khususnya semasa Kerajaan Tarumanegara dan Kerajaan Sunda, dalam perkembangannya kemudian seringkali dijadikan acuan dalam memetakan apa yang dinamakan kebudayaan Sunda.

Kebudayaan Sunda yang ideal pun kemudian sering dikaitkan sebagai kebudayaan raja-raja Sunda atau tokoh yang diidentikkan dengan raja Sunda. Dalam kaitan ini, jadilah sosok Prabu Siliwangi dijadikan sebagai tokoh panutan dan kebanggaan urang Sunda karena dimitoskan sebagai raja Sunda yang berhasil, sekaligus mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya.

Dalam perkembangannya yang paling kontemporer, kebudayaan Sunda kini banyak mendapat gugatan kembali. Pertanyaan seputar eksistensi kebudayaan Sunda pun sering kali mencuat ke permukaan. Apakah kebudayaan Sunda masih ada? Kalau masih ada, siapakah pemiliknya? Pertanyaan seputar eksistensi kebudayaan Sunda yang tampaknya provokatif tersebut, bila dikaji dengan tenang sebenarnya merupakan pertanyaan yang wajar-wajar saja. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana, karena kebudayaan Sunda dalam kenyataannya saat ini memang seperti kehilangan ruhnya atau setidaknya tidak jelas arah dan tujuannya. Mau dibawa ke mana kebudayaan Sunda tersebut?

Setidaknya ada empat daya hidup yang perlu dicermati dalam kebudayaan Sunda, yaitu, kemampuan beradaptasi, kemampuan mobilitas, kemampuan tumbuh dan berkembang, serta kemampuan regenerasi. Kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda, terutama dalam merespons berbagai tantangan yang muncul, baik dari dalam maupun dari luar, dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan. Bahkan, kebudayaan Sunda seperti tidak memiliki daya hidup manakala berhadapan dengan tantangan dari luar.

Akibatnya, tidaklah mengherankan bila semakin lama semakin banyak unsur kebudayaan Sunda yang tergilas oleh kebudayaan asing. Sebagai contoh pali
jelas, bahasa Sunda yang merupakan bahasa komunitas urang Sunda tampak secara eksplisit semakin jarang digunakan oleh pemiliknya sendiri, khususnya para generasi muda Sunda. Lebih memprihatinkan lagi, menggunakan bahasa Sunda dalam komunikasi sehari-hari terkadang diidentikkan dengan "keterbelakangan", untuk tidak mengatakan primitif. Akibatnya, timbul rasa gengsi pada urang Sunda untuk menggunakan bahasa Sunda dalam pergaulannya sehari-hari. Bahkan, rasa "gengsi" ini terkadang ditemukan pula pada mereka yang sebenarnya merupakan pakar di bidang bahasa Sunda, termasuk untuk sekadar mengakui bahwa dirinya adalah pakar atau berlatar belakang keahlian di bidang bahasa Sunda.

Apabila kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan, hal itu sejalan pula dengan kemampuan mobilitasnya. Kemampuan kebudayaan Sunda untuk melakukan mobilitas, baik vertikal maupun horizontal, dapat dikatakan sangat lemah. Oleh karenanya, jangankan di luar komunitas Sunda, di dalam komunitas Sunda sendiri, kebudayaan Sunda seringkali menjadi asing. Meskipun ada unsur kebudayaan Sunda yang memperlihatkan kemampuan untuk bermobilitas, baik secara horizontal maupun vertikal, secara umum kemampuan kebudayaan Sunda untuk bermobilitas dapat dikatakan masih rendah sehingga kebudayaan Sunda tidak saja tampak jalan di tempat tetapi juga berjalan mundur.

Berkaitan erat dengan dua kemampuan terdahulu, kemampuan tumbuh dan berkembang kebudayaan Sunda juga dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang tidak kalah memprihatinkan. Jangankan berbicara paradigma-paradigma baru, iktikad untuk melestarikan apa yang telah dimiliki saja dapat dikatakan sangat lemah. Dalam hal folklor misalnya, menjadi sebuah pertanyaan besar, komunitas Sunda yang sebenarnya kaya dengan folklor, seberapa jauh telah berupaya untuk tetap melestarikan folklor tersebut agar tetap "membumi" dengan masyarakat Sunda.

Kalaulah upaya untuk "membumikan" harta pusaka saja tidak ada bisa dipastikan paradigma baru untuk membuat folklor tersebut agar sanggup berkompetisi dengan kebudayaan luar pun bisa jadi hampir tidak ada atau bahkan mungkin, belum pernah terpikirkan sama sekali. Biarlah folklor tersebut menjadi kenangan masa lalu urang Sunda dan biarkanlah folklor tersebut ikut terkubur selamanya bersama para


pendukungnya, begitulah barangkali ucap urang Sunda yang tidak berdaya dalam merawat dan memberdayakan warisan leluhurnya.

Berkenaan dengan kemampuan regenerasi, kebudayaan Sunda pun tampaknya kurang membuka ruang bagi terjadinya proses tersebut, untuk tidak mengatakan anti regenerasi. Budaya "kumaha akang", "teu langkung akang", "mangga tipayun", yang demikian kental melingkupi kehidupan sehari-hari urang Sunda dapat dikatakan menjadi salah satu penyebab rentannya budaya Sunda dalam proses regenerasi. Akibatnya, jadilah budaya Sunda gagap dengan regenerasi.

Generasi-generasi baru urang Sunda seperti tidak diberi ruang terbuka untuk berkompetisi dengan sehat, hanya karena kentalnya senioritas serta "terlalu majunya" pemikiran para generasi baru, yang seringkali bertentangan dengan pakem-pakem yang dimiliki generasi sebelumnya. Akibatnya, tidaklah mengherankan bila proses alih generasi dalam berbagai bidang pun berjalan dengan tersendat-sendat.

Bila pengamatan terhadap daya hidup kebudayaan Sunda melahirkan temuan-temuan yang cukup memprihatinkan, hal yang sama juga terjadi manakala tiga mustika mutu hidup kreasi Rendra digunakan untuk menjelajahi Kebudayaan Sunda, baik itu mustika tanggung jawab terhadap kewajiban, mustika idealisme maupun mustika spontanitas. Lemahnya tanggung jawab terhadap kewajiban tidak saja diakibatkan oleh minimnya ruang-ruang serta kebebasan untuk melaksanakan kewaijiban secara total dan bertanggung jawab tetapi juga oleh lemahnya kapasitas dalam melaksanakan suatu kewajiban.

Hedonisme yang kini melanda Kebudayaan Sunda telah mampu menggeser parameter dalam melaksanakan suatu kewajiban. Untuk melaksanakan suatu kewajiban tidak lagi didasarkan atas tanggung jawab yang dimilikinya, tetapi lebih didasarkan atas seberapa besar materi yang akan diperolehnya apabila suatu kewajiban dilaksanakan. Bila ukuran kewajiban saja sudah bergeser pada hal-hal yang bersifat materi, janganlah berharap bahwa di dalamnya masih ada apa yang disebut mustika idealisme. Para hedonis dengan kekuatan materi yang dimilikinya, sengaja atau tidak sengaja, semakin memupuskan idealisme dalam kebudayaan Sunda. Akibatnya, jadilah betapa sulitnya komunitas Sunda menemukan sosok-sosok yang bekerja dengan penuh idealisme dalam memajukan kebudayaan Sunda.

Berpijak pada kondisi lemahnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan Sunda, timbul pertanyaan besar, apa yang salah dengan kebudayaan Sunda? Untuk menjawab ini banyak argumen bisa dikedepankan. Tapi dua di antaranya yang tampaknya bisa diangkat ke permukaan sebagai faktor berpengaruh paling besar adalah karena ketidakjelasan strategi dalam mengembangkan kebudayaan Sunda serta lemahnya tradisi, baca, tulis , dan lisan (baca, berbeda pendapat) di kalangan komunitas Sunda.

Ketidakjelasan strategi kebudayaan yang benar dan tahan uji dalam mengembangkan kebudayaan Sunda tampak dari tidak adanya "pegangan bersama" yang lahir dari suatu proses yang mengedepankan prinsip-prinsip keadilan tentang upaya melestarikan dan mengembangkan secara lebih berkualitas kebudayaan Sunda. Kebudayaan Sunda tampaknya dibiarkan berkembang secara liar, tanpa ada upaya sungguh-sungguh untuk memandunya agar selalu berada di "jalan yang lurus", khususnya manakala harus berhadapan dengan kebudayaan-kebudayaan asing yang galibnya terorganisasi dengan rapi serta memiliki kemasan menarik. Berbagai unsur kebudayaan Sunda yang sebenarnya sangat potensial untuk dikembangkan, bahkan untuk dijadikan model kebudayaan nasional dan kebudayaan dunia tampak tidak mendapat sentuhan yang memadai. Ambillah contoh, berbagai makanan tradisional yang dimiliki urang Sunda, mulai dari bajigur, bandrek, surabi, colenak, wajit, borondong, kolontong, ranginang, opak, hingga ubi cilembu, apakah ada strategi besar dari pemerintah untuk mengemasnya dengan lebih bertanggung jawab agar bisa diterima komunitas yang lebih luas. Kalau Kolonel Sanders mampu mengemas ayam menjadi demikian mendunia, mengapa urang Sunda tidak mampu melahirkan Mang Ujang, Kang Duyeh, ataupun Bi Eha dengan kemasan-kemasan makanan tradisional Sunda yang juga mendunia?

Lemahnya budaya baca, tulis, dan lisan ditengarai juga menjadi penyebab lemahnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan Sunda. Lemahnya budaya baca telah menyebabkan lemahnya budaya tulis. Lemahnya budaya tulis pada komunitas Sunda secara tidak langsung merupakan representasi pula dari lemahnya budaya tulis dari bangsa Indonesia. Fakta paling menonjol dari semua ini adalah minimnya karya-karya tulis tentang kebudayaan Sunda ataupun karya tulis yang ditulis olehurang Sunda. Dalam kaitan ini, upaya Yayasan Rancage untuk memberikan penghargaan dalam tradisi tulis perlu mendapat dukungan dari berbagai elemen urang Sunda. Sayangnya, hingga saat ini pertumbuhan tradisi tulis pada urang Sunda masih tetap terbilang rendah.

1.1 Kasang Tukang Masalah
Tiap-tiap sélér bangsa tinangtu pada-pada mibanda ajén budaya. Ajén budaya hiji sélér bangsa bakal kagambar tina sakabéh perkara anu aya patalina jeung kahirupan manusana. Budaya mibanda harti:
“kelompok adat kebiasaan , pikiran, kepercayaan, dan nilai yang turun-temurun dipakai oleh masyarakat pada waktu tertentu untuk menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap segala situasi yang sewaktu-waktu timbul, baik dalam kehidupan idividu maupun dalam kehidupan masyarakat sebagai keseluruhan” (Baried, 1983: 85-86).
Sakumaha anu kaunggel di luhur yén kabudayaan téh nya éta rupaning hal anu aya patalina jeung kahirupan. Dina raraga mikanyaho kabudayaan hiji sélér bangsa tinangtu perlu mikaweruh unsur-unsur budaya nu umum atawa universal. Nurutkeun Koentjaraningrat (1974,12) aya tujuh unsur budaya anu miboga sipat universal, nya éta 1) sistem réligi jeung upacara kaagamaan, 2) sistem organisasi kamasarakatan, 3) sistem pengetahuan, 4) basa, lisan jeung tinulis, 5) kesenian, 6) sistem pakasaban, jeung, 7) sistem téknologi jeung pakakas.
Kamekaran budaya Sunda dina kahirupan henteu leupas tina rupaning faktor anu mangaruhanana, salah sahijina nya éta minat jeung kahayang masarakat kana karya sastra. Ieu hal téh patali jeung kalungguhan sastra salaku karya seni. Karya seni mangrupa kréativitas manusa pikeun méré kasenangan jeung kani’matan éstétis. Dina ambahan nu leuwih lega, kalungguhan karya sastra téh nya éta salaku sarana pikeun nyumponan kapentingan, pikiran, jeung rasa manusa boh pikeun pribadi bohpikeun lingkunganana.
Karya sastra mangrupa salah sahiji wujud tina kabudayaan anu gumelar dina kahirupan manusa. Di Indonesia, hususna di masarakat Sunda karya sastra gelar dina rupa-rupa wanda. Ieu hal téh nuduhkeun kajembaran hasanah budaya Sunda. Ayana rupa-rupa wanda karya sastra lantaran masarakat Sunda anu rancagé,anu ngabalukarkeun di masarakat Sunda leubeut ku hasil karyana.
Karya sastra mangrupa rakitan basa nu éndah. Nu ngahudangkeun rasa éndah téh lain ngan ukur tina jihat basana wungkul, tapi leuwih nyoko kana eusina. Hal anu ditepikeun téh mangrupa tarékah pikeun nepikeun bebeneran. Jadi bisa disebutkeun yén basa téh mangrupa titiron dunya subjektif manusa. Karya sastra mibanda kalungguhan salaku karya seni nu digelarkeun ngagunakeun pakakas basa, salian ti mangrupa média pikeun ngébréhkeun idé, kahayang, gagasan hirup, katut intuisi sacara éstétis.
Sacara umum, nilik kana wangunna karya sastra kabagi jadi tilu bagian, nya éta wangun lancaran, wangun puisi, jeung wangun carita. Tilu wangun (génré) sastra ieu gelar ngaliwatan (medium) lisan jeung tulisan. Karya sastra anu gumelarna ngaliwatan tulisan tinangtu bakal leuwih lila tinimang karya sastra nu gumelar ngaliwatan lisan boh umurna boh kaaslianana. Ieu hal gésajalan jeung pamadegan Iskandarwassid (2003:139) nu nétélakeun yén lamun nilik kana médiana, aya nu kagolongkeun kana sastra lisan jeung tinulis. Disebut karya sastra lisan lantaran tumuwuhna, mekarna, jeung sumebarna ngaliwatan media lisan (ucapan). disebut karya sastra tinulis nya éta anu hirupna dina média tulis.
Nurutkeun kana waktuna gelar karya sastra Sunda téh kabagi kana dua bagian nya éta: 1) karya sastra Sunda buhun, nu mangrupa jangjawokan; kakawihan; pupujian; sisindiran; pupuh; wawacan; carita pantun; dongéng; jeung 2) karya sastra Sunda modern nu mangrupa carita pondok (carpon); novel; sajak jeung carita drama (Koswara, 2003: 107).
Salah sahiji karya sastra buhun anu gumelar ngaliwatan lisan téh nya éta mantra. Éta karya téh mimiti langka, bisa disebutkeun geus teu dipaké tur diguar deui eusina. Padahal dina mantra sorangan nyangkaruk ajén-ajén budaya manusa Sunda. Ku lantaran kitu, sawadina urang Sunda ngayakeun panalungtikan ngaguar eusi jeung ajén budaya nu nyampak dina karya sastra buhun. Ieu hal mangrupa tarékah pikeun ngamumulé budaya Sunda karuhun anu geus diwariskeun ulah nepi ka teu dipikanyaho ku generasi Sunda kiwari sarta pikeun bahan pieunteungeun dina ngalakonan kahirupan.



  

1 komentar: